Terlambat bicara, fenomena sindrom anak kota

Kalau si kecil di usia 2-3 tahun belum mengeluarkan sepatah kata pun, itu artinya ia mengalami keterlambatan bicara. Sejumlah praktisi medis menyebutnya sebagai “Sindrom Anak Kota”, karena fenomena semacam ini kerap dialami anak di perkotaan. Kondisi ini disebabkan oleh pola asuh orang tua yang salah. Selain itu, faktor yang juga dianggap berkontribusi besar adalah karena perkenalan anak dengan gadget dan kebiasaan salah dalam menonton televisi. Menurut Dokter Tumbuh Kembang Anak, keterlambatan bicara pada anak biasanya terjadi saat anak berusia 2-3 tahun. Ciri-ciri anak terlambat bicara antara lain, tidak mengeluarkan kata- sepatah kata pun, misal Ah, eh, ah, eh. Atau ada anak yang bisa bicara tapi belum bisa merangkai kata dengan benar. Yang lebih parah lagi kalau ada yang tidak bisa bicara dan tidak merespons saat diajak berkomunikasi. Keterlambatan bicara ini kerap dialami anak di kota besar, seperti Jakarta, karena beberapa gerak motorik dan sensoriknya yang kurang berfungsi. Refleks dan respons anak juga kurang distimulasi. Akibatnya, anak kurang mampu berbicara. Kalau berbicara, kosakata yang dikenalnya juga masih minim. Tren kasus keterlambatan bicara diyakini mengalami peningkatan di Jakarta, meski belum ada statistik secara menyeluruh dari rumah sakit. Data di Poliklinik Neurologi Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada Januari 2006-Juli 2008 memperlihatkan prevalensi anak yang tidak bisa bicara dan berjalan sebanyak 71 kasus (47,1 persen) dari total 151 anak.